Tips: Menghilangkan rasa tidak takut kepada Allah Bookmark and share Bookmark and Share Print
Written by Ureh   
Wednesday, 12 August 2009 00:00

Apakah khilafnya sehingga diri terasa jauh dari Allah walaupun tidak meninggalkan ibadah fardlu dan sunnah?


Padahal Allah berfirman dalam hadist qudsi bermaksud: “tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melainkan seperti mereka yang mengerjakan apa-apa yang Aku fardlukan ke atas mereka. Dan senantiasalah hamba-Ku menghampirkan diri kepada-Ku dengan yang sunat sehingga Aku mencintainya, maka apabila Aku telah mencintainya Akulah pendengaran yang dengannya ia mendengarkan dan Akulah penglihatan yang dengannya ia melihat dan Akulah lidah yang dengannya ia bercakap dan Akulah tangan yang ia menyentuh dan Akulah kaki yang ia berjalan dengannya.” (Hadist riwayat Al-Bukhari)

Tapi mengapa hati tidak dapat meresapi kasih Allah itu. Pantang larangan Nya cukup banyak tidak kita pedulikan dan tidak ada rasa takut.

Pertama, mengingat Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang dari kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka dan tempat duduknya di surga.” Lalu mereka berkata: “Ya Rasulullah kalau begitu maka apakah kami patut berserah saja kepada tulisan kami dan tinggalkan amal? Rasulullah bersabda: “Beramallah kamu, maka semuanya akan dipermudahkan kepada apa yang telah dituliskan bagi kamu. Adapun orang yang berbahagia, maka ia akan beramal dengan amal golongan bahagia. Dan orang yang celaka, maka ia beramal dengan golongan orang yang celaka”

Hadist di atas cukup menakutkan, betapa amal salih itu belum tentu menjaminnya ke surga karena masih bergantung pada takdir yang tertulis di Lauh Mahfuz.

Walau demikian kenapa rasa takut itu belum hadir ketika sholat atau berada di pasar? Atau ketika dihadapkan oleh dua dilema, kesusahan taat dan kelezatan syahwat? Mengapa kita masih bersuka ria, padahal kita tidak tahu beruntung atau celaka pada akhirat nanti?

Hikmah hadist ini diajarkan oleh Rasulullah agar kita tidak sombong dengan amal salih dan merasa cukup terjamin dengan ibadah itu.

Kedua, takut jika amal tidak diterima oleh Allah. Mungkin amal yang dibuat itu kotor dengan riya’ atau karena terpaksa, bukan lahir dari hati atau karena Allah. Atau mungkin beramal karena sombong dan merasa kita menggerakkan tubuh badan untuk beramal. Padahal, semua itu adalah gerakan kuasa Allah Yang Maha Besar. Karena petunjuk Allahlah kita beribadah bukan karena semangat membara atau ilmu yang menggunung atau sebutan dan sanjungan manusia kepada diri kita. Tanyakan kepada diri sendiri adakah amal ini tidak terjangkit oleh kuman yang merusakkannya?

Hadist Rasulullah menukilkan mengenai rusaknya amal salih: “Malaikat yang membawa amal manusia memuji-muji amal salih itu dan mempersembahkan kepada Allah, lalu Allah berfirman: Kamu semua hanya menuliskan tetapi Aku Maha mengetahui apa yang dikerjakannya itu bukan untuk-Ku. Musnahkanlah ia karena ia bukan untuk-Ku”

Ketiga, takut kepada kematian ketika beramal. Maka akan lahirlah perasaan takut kepada kuasa Allah. Kita mau ketika ajal sampai, sedangkan beribadah kepada Allah dan takut kepada-Nya. Masa begitu singkat, maka gunakanlah ia untuk sebenar-benar penghambaan. Rasulullah bersabda: “Manusia akan dibangkitkan menurut cara kematiannya”.

Terakhir, takut kepada Allah dengan mengingati hari terpenting dalam hidup yaitu hari akhirat. Aisyah r.a. menanyakan persoalan paling romatik kepada kekasihnya Nabi Muhammad; “Wahai kekasihku, Ya Rasulullah, dimanakah tempat orang yang mencintai tidak ingat kepada yang dicintai? Jawab Baginda: “Ada tida tempat yang ia tidak ingat, yaitu: Pertama ketika ditimbang amal apakah ringan atau berat. Kedua ketika menerima catatan amal sehingga tahu dengan tangan kanan atau kiri. Ketiga ketika keluar ular besar dari neraka yang mengepung mereka dan berkata: “Aku disuruh mencari tiga jenis manusia: orang yang syirik, orang yang kejam dan zalim serta orang yang tidak percaya dengan hari ini”

Betapa Allah yang layak untuk diagungkan, ditakuti, dipuji dan diminta pertolongan-Nya. Hanya orang yang diberi petunjuk dan dicurahi nikmat iman serta kasih Illahi yang dapat merasakan takut kepada Allah pada setiap detak jantungnya.

Sumber: Mutiara Amali Vol. 18.

Comments

Please login to post comments or replies.